SABILINA TOURS – Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi pusat perhatian umat Islam di Ka’bah, selama ini diyakini sebagai batu suci yang berasal dari surga. Namun, penelitian ilmiah terbaru justru mengungkap temuan menarik bahwa batu ini kemungkinan besar memang berasal dari luar bumi.
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dikutip dalam buku Tapak Sejarah Seputar Makkah-Madinah karya Muslim H. Nasution:
“Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga.” (HR. At-Tirmidzi)
Antara Keyakinan Religius dan Fakta Ilmiah
Dalam sejarah Islam, diceritakan bahwa malaikat Jibril membawa Hajar Aswad kepada Nabi Ibrahim AS untuk ditempatkan di sudut Ka’bah. Ketika bangunan suci itu direnovasi, Nabi Muhammad SAW sendiri yang menempatkan batu tersebut pada posisinya. Hingga saat ini, mencium atau menyentuh Hajar Aswad menjadi bagian dari sunnah dalam ibadah tawaf.
Menariknya, keyakinan spiritual ini kini mendapat perhatian dari dunia sains. Elsebeth Thomsen, peneliti dari University of Copenhagen, melalui risetnya berjudul “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba”, menemukan bahwa struktur Hajar Aswad memiliki kemiripan dengan kaca impaksit—material yang biasanya terbentuk akibat tumbukan meteorit di permukaan bumi.
Penelitian itu bahkan mengaitkan asal batu tersebut dengan kawah Wabar di Rub’ al Khali, Arab Saudi, yang ditemukan oleh penjelajah Inggris, Harry St. John Philby, pada tahun 1932.

Ciri Fisik dan Analisis Geologis
Menurut penelitian Dietz dan McHone (1974), Hajar Aswad terdiri atas delapan fragmen kecil yang direkatkan menggunakan perak. Batu ini berwarna hitam mengilap di bagian luar, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih seperti susu—bahkan dilaporkan dapat mengapung di air, sifat yang jarang ditemukan pada batu biasa.
Kaca impaksit dari kawah Wabar menunjukkan karakteristik yang sangat mirip: permukaan luar berkilau hitam, bagian dalam berpori putih, serta mengandung besi dan nikel yang terbentuk akibat suhu ekstrem dari tumbukan meteorit. Kajian oleh El Goresy dan koleganya (1968) memperkuat teori ini dengan menyebut bahwa kaca tersebut merupakan hasil lelehan pasir silika akibat benturan meteorit besar.
Thomsen kemudian membandingkan sampel kaca Wabar yang tersimpan di Museum Geologi Kopenhagen dengan deskripsi Hajar Aswad, dan hasilnya menunjukkan kesamaan yang sangat mencolok. Material tersebut diperkirakan berusia sekitar 6.400 tahun, kemungkinan besar dibawa ke Makkah oleh kafilah kuno dari Oman yang melewati jalur dagang di sekitar kawasan Wabar.

Dua Sisi yang Saling Menguatkan: Sejarah dan Sains
Sumber-sumber klasik Islam menegaskan bahwa Hajar Aswad merupakan batu terakhir yang dipasang Nabi Ibrahim AS untuk menyempurnakan pembangunan Ka’bah, sebagai anugerah dari langit yang dibawa oleh malaikat Jibril. Imam Ath-Thabari juga meriwayatkan bahwa batu itu telah disiapkan oleh Jibril bahkan sebelum Nabi Ismail AS sempat mencari batu untuk pembangunan Ka’bah.
Dalam pandangan Muslim H. Nasution, sebagaimana tertulis dalam bukunya, Hajar Aswad pada awalnya berwarna putih, namun berubah menjadi hitam karena dosa manusia. Rasulullah SAW bersabda:
“Hajar Aswad turun dari surga lebih putih daripada susu, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam.” (HR. Tirmidzi)
Penelitian ilmiah yang mengaitkan Hajar Aswad dengan meteorit Wabar bukanlah upaya menentang keyakinan, tetapi justru memperluas pemahaman tentang asal-usul batu tersebut. Kesamaan ciri fisik dan komposisi memberi penjelasan rasional bahwa batu ini mungkin benar-benar berasal dari luar bumi—sebuah fakta ilmiah yang justru meneguhkan makna spiritualnya sebagai batu “berjejak langit.”





